Pages

Ads 468x60px

Selasa, 22 Februari 2011

SISTEM INTENSIFIKASI PADI

PENINGKATAN HASIL GABAH MELALUI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU DAN SISTEM INTENSIFIKASI PADI

Ramdhani
Pertanian tanaman pangan khususnya tanaman padi mempunyai nilai strategis karena merupakan tulang punggung ketahanan pangan dan hajat hidup penduduk Indonesia. Hal ini tampak pada kebutuhan beras yang terus meningkat sesuai dengan perkembangan penduduk (1,9%), dimana permintaan beras untuk tahun 2025 diperkirakan mencapai 78 juta ton.  Salah satu usaha peningkatan produksi dilakukan melalui intensifikasi dengan perbaikan teknologi budidaya tanaman padi. Pemanfaatan sumberdaya baik lahan, air, tanaman dan organisme dalam budidaya tanaman padi sampai sekarang ini belum optimal. Hal ini tampak dari rendahnya efisiensi penggunaan input, hasil gabah per hektar, semakin banyaknya masalah hama dan penyakit dalam budidaya tanaman padi dan lain-lain. Oleh karena itu dalam sistem pertanian yang berkelanjutan perlu adanya perbaikan dalam strategi pengelolaan sumberdaya lahan, air, tanaman dan organisme (LATO) untuk meningkatkan efisiensi dalam penggunaan input produksi. Dalam konsep tersebut, penggunaan komponen teknologi disesuaikan dengan kondisi setiap lokasi dimana antara komponen teknologi satu dengan lainnya bersinergi.
Dengan dilepasnya varietas-varietas berdaya hasil tinggi baik padi konvensional, hibrida maupun padi tipe baru, maka strategi pengembangannya pun perlu teknologi budidaya yang berbeda sehingga pengelolaan sumberdaya LATO sangat diperlukan. Strategi tersebut didasarkan pada pengalaman dalam melaksanakan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) pada padi sawah dan pemahaman penampilan varietas-varietas berdaya hasil tinggi. Dengan penerapan strategi tersebut diharapkan terjadi peningkatan produksi padi untuk mencukupi kebutuhan pangan dan agroindustri dalam negeri serta peningkatan pendapatan petani secara merata. Berdasar pengalaman dalam menerapkan model PTT di 18 propinsi menunjukkan bahwa budidaya padi dengan menerapkan model PTT mampu meningkatkan hasil gabah berkisar 7 – 38 % dibanding budidaya padi non-PTT atau terjadi peningkatan hasil gabah berkisar 0,35 – 2,29 t/ha dengan rata-rata 1,09 t/ha. Dengan demikian budidaya padi model PTT mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan lebih lanjut.
            Namun demikian dengan santernya informasi mengenai pertanian organik khususnya pada tanaman padi, muncul budidaya tanaman padi dengan pendekatan tanpa penggunaan bahan kimia baik untuk penggunaan pupuk anorganik maupun pestisida yang dikenal dengan nama system of rice intensification (SRI). Budidaya padi model SRI  telah berkembang secara pesat di daerah Garut dan Ciamis. Berdasar hasil wawancara dengan petani yang menerapkan model SRI dalam budidaya tanaman padi diperoleh informasi bahwa hasil gabah dapat mencapai 9 - 10 ton/ha tanpa menggunakan pupuk anorganik. Informasi tersebut perlu ditindak lanjuti dengan pengkajian lapang apakah hasil gabah yang mereka sampaikan benar atau tidak. Secara teoritis dengan pemberian pupuk organik antara 7-9 ton/ha belum mencukupi untuk kebutuhan hara guna mencapai hasil gabah tinggi tersebut. Hal ini disebabkan kandungan hara pupuk organik sangat rendah dan proses pelepasan hara dari bahan organik menjadi tersedia bagi tanaman memerlukan waktu yang cukup lama (± 3 bulan) sehingga pelepasan hara tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman pada saat itu tetapi tanaman berikutnya.
Komponen teknologi PTT dan SRI
Dalam konsep SRI, tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya. Semua potensi  tanaman padi dikembangkan dengan cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya sehingga diperoleh sistem budidaya tanaman padi yang ramah lingkungan. Kesehatan tanah menjadi dasar untuk mendapatkan hasil gabah tinggi sehingga upaya pembuatan pupuk organik menjadi prioritas utama dalam budidaya model SRI.
Teknologi budidaya model SRI yang dikembangkan di Kabupaten Garut dan Ciamis adalah (1) seleksi benih dengan larutan garam dimana air dimasukkan ke dalam ember kemudian ditenggelamkan sebuah telur ayam atau itik mentah, selanjutnya diberi garam dan diaduk sampai telur ayam/itik tersebut mengapung. Telur diambil dan digantikan dengan benih padi yang akan ditanam. Benih yang mengapung dibuang sedang benih yang tenggelam digunakan sebagai benih untuk pembibitan (Tabel 1), (2) persemaian bibit dalam besek atau baki, dengan cara tersebut penggunaan benih hanya memerlukan 7 – 10 kg per hektar, (3) penanaman bibit umur 7 – 10 hari setelah sebar, dimaksudkan agar periode vegetatif tanaman lebih lama sehingga memungkinkan pembentukan anakan lebih banyak, (4) penanaman bibit tunggal untuk setiap lubang tanam, hal ini ditujukan agar pertumbuhan tanaman lebih pesat karena tidak ada  persaingan tanaman dalam satu lubang tanam dalam hal memperoleh hara, ruang dan
Tabel 1. Komponen teknologi budidaya padi model SRI dan PTT
No
Komponen teknologi
SRI
PTT
1
Varietas
Varietas unggul baru atau lokal
Varietas unggul baru (VUB)
2
Umur bibit
7-10 HSS
14 – 21 HSS
3
Jumlah bibit / rumpun
1 bibit
1 – 3 bibit
4
Tempat persemaian bibit
Besek/baki
Sawah
5
Seleksi benih
Telur mentah direndam air garam
Larutan garam 3 %
6
Jarak tanam
27 x 27 / 30 x 30 cm
20 x 20 (tegel) atau legowo 2:1 / 3:1/ 4:1
7
Pupuk
organik
Organik dan anorganik
8
Teknik pengairan
Macak-macak - lembab
Intermiten (berselang)
9
Pengendalian hama
Pestisida hayati
Pestisida pabrik
10
Penyiangan
Tangan 2 x,     gasrok 2 x
Tangan 1x, gasrok 2 kali, herbisida 1 x
11
Dosis pupuk mineral
0
BWD dan analisis tanah untuk dosis P & K
12
Umur panen
Masak fisiologi
90 % masak fisiologi
13
Teknik panen
Ani-ani, sabit, gebotan
Thresher, sabit bergerigi alas plastik

cahaya matahari yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman sehingga pembentukan anakan menjadi lebih banyak, (5) jarak tanam lebar, biasanya 27 cm x 27 cm sampai 30 cm x 30 cm diharapkan cukup ruang untuk anakan yang banyak, (6) irigasi macak-macak selama pertumbuhan, kecuali pada waktu akan dilakukan penyiangan dimana air dibiarkan sampai menggenang di petakan sawahnya. Irigasi macak-macak ditujukan agar tanah dapat memperoleh udara (oksigen) yang lebih banyak untuk pernafasan akar (respirasi) sehingga akar dapat berkembang cepat secara lateral maupun ke lapisan tanah yang lebih dalam, akibatnya akar mampu mendapatkan hara dan air yang lebih banyak, (7) penggunaan pupuk organik berupa jerami padi, pupuk kandang, batang pisang yang dicacah ukuran kecil-kecil dan sampah rumah tangga sebanyak 7 – 9 ton/ha diberikan pada saat pengolahan tanah. Pemberian pupuk organik tersebut bertujuan untuk menyehatkan tanah karena menurut anggapan mereka semua bahan kimia dari produk pupuk anorganik maupun pestisida merupakan racun bagi tanah, (8) pestisida hayati dengan bahan-bahan seperti daun-daunan, bumbu-bumbu dapur dll yang ada di sekitar mereka. Bahan-bahan tersebut diracik menjadi ramuan untuk pengendalian hama dan penyakit. Menurut mereka hama harus dikendalikan oleh musuh alaminya ataupun hama diusir dari lahan sawahnya melalui bau ramuan pestisida hayati yang tidak disukai hama, (9) penyiangan dengan alat gasrok dengan tujuan untuk menggemburkan tanah, dilakukan 2 kali pada waktu umur tanaman 21 hari setelah tanam (HST) dan 42 HST.
Sementara itu tingkat penerapan komponen teknologi PTT disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan masalah setempat dan ternyata beragam antar petani dan antar daerah. Teknologi budidaya model PTT antara lain (1) perlakuan benih dengan perendaman larutan garam 3 % artinya tiap 1 liter air ditambahkan 30 gram garam dapur. Benih yang mengapung dibuang sedangkan benih yang tenggelam dijadikan benih untuk mendapatkan bibit yang sehat. Perlakuan ini ditujukan agar benih yang dijadikan bibit cukup sehat untuk pertumbuhan tanaman nantinya. Kebutuhan benih sebanyak 15 kg per hektar lahan yang ditanami sementara kebutuhan benih untuk pertanaman padi non-PTT di tingkat petani sebanyak 25 kg/ha. (2) Varietas, dimana digunakan varietas unggul berdaya hasil tinggi, tahan hama dan penyakit di daerah setempat, rasa nasi sesuai dengan selera petani dan permintaan pasar. Varietas yang masih menjadi andalan petani dalam budidaya tanaman padi antara lain varietas Ciherang, dan IR 64, sedangkan varietas padi lainnya antara lain Widas, Kalimas, Cisokan, Ciliwung, dan lain-lain. (3) pemupukan, dimana pemberian pupuk N didasarkan pada pembacaan bagan warna daun (BWD) berkisar 210 – 250 kg/ha. Efisiensi pemberian pupuk urea berdasar pembacaan BWD cukup tinggi dimana dapat menghemat penggunaan urea sebanyak 50 – 150 kg/ha. Penggunaan pupuk SP-36 dan KCl masing-masing dapat dihemat sebanyak 50 kg/ha. Pemberian pupuk P dan K didasarkan pada analisis tanah ataupun peta status hara P dan K. (4) Pemberian bahan organik sebanyak 1-2 ton/ha untuk memperbaiki kesuburan tanah disesuaikan dengan sumber bahan organik yang tersedia di lokasi. (5) tanam jajar legowo 2:1 atau 3:1 ataupun 4:1dengan jarak tanam 25 cm x 12,5 cm, sehingga populasi tanaman per hektar masing-masing 213.333, 240 ribu dan 256 ribu tanaman per hektar. Keuntungan lain dengan cara tanam legowo adalah mudah melakukan penyiangan, memudahkan pemberian pupuk ke dalam baris tanaman, hasil gabah lebih tinggi dan pertumbuhan tanaman lebih bagus karena persaingan antara tanaman hanya dalam baris serta adanya “border effect” dimana penampilan tanaman lebih lebat seperti halnya tanaman pinggir pada system tanam tegel. (6) irigasi berselang dengan periode kering-basah secara bergantian sejak tanam sampai primordial bunga, kemudian tanaman digenang sejak periode bunting sampai pengisian gabah dan genangan air dibuang pada 2 minggu menjelang panen, (7) penyiangan dengan alat gasrok pada 21 dan 42 hari setelah tanam, (8) tanam bibit muda 15 hari setelah sebar dan bibit tunggal tiap lubang tanam. Cara ini menstimulasi pembentukan anakan lebih banyak karena periode vegetatif tanaman lebih lama dan persaingan tanaman dalam satu lubang tanaman lebih kecil dibanding teknologi yang biasa digunakan petani saat ini, (9) Panen pada kondisi 90 % masak fisiologi atau 30 hari dari periode berbunga. Bila memungkinkan tanaman padi dirontok dengan mesin perontok (power thresher).
Dengan demikian sebenarnya banyak kesamaan teknologi budidaya tanaman padi model SRI dengan PTT sedangkan perbedaannya pada cara pandang teknologi budidaya itu sendiri dimana teknologi SRI menekankan pada budidaya padi ramah lingkungan sedangkan PTT menekankan pada sinergisme faktor biotik dan abiotik yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi. 
Tanaman padi memiliki sifat khas secara genetik seperti potensi hasil tinggi, kualitas gabah yang baik, respon terhadap pemupukan dan daya adaptasi terhadap lingkungan tumbuhnya. Hasil pertanaman padi merupakan interaksi dari faktor tanah, tanaman maupun lingkungannya. Strategi untuk mendapatkan potensi optimum dari suatu varietas padi perlu diketahui sifat asli varietas tanamannya baik keunggulan maupun kekurangannya. Seperti halnya varietas Ciherang yang cukup luas penyebaran pertanamannya sangat peka terhadap penyakit kresek (BLB) bila ditanam di daerah yang susah membuang kelebihan air di petakan. Oleh karena itu perlu menyempurnakan teknologi budidaya yang spesifik agar terpenuhi kebutuhan tumbuh tanaman padi sehingga tercapai hasil gabah yang tinggi dan peningkatan pendapatan usahatani tanaman padi yang berkelanjutan.



Kelebihan dan kekurangan budidaya tanaman padi model SRI dan PTT        
1.        Budidaya tanaman padi model SRI lebih menekankan pada penggunaan pupuk organik untuk menyehatkan tanah sawahnya (Tabel 2). Pada dasarnya pupuk organik merupakan  pupuk dengan bahan utama berasal dari bahan–bahan yang mengandung

Tabel. 2. Kelebihan dan kekurangan teknik budidaya model SRI dan PTT
No

SRI
PTT
1
Hasil gabah (t/ha)
5,77 – 8,47
5,02 – 8,16
2
Harga beras (Rp/kg)
6000
4000
3
Metode pendekatan
Pertanian ekologi tanah, PHT
PRA, PHT
4
Teknik diseminasi
Individu, kelompok, demonstrasi
Hamparan, kelompok, demplot
5
Pertumbuhan gulma
cepat
Agak cepat
6
Produk beras
Lebih sehat
Sehat
7
Efisiensi input
Lebih tinggi
Tinggi
8
Paket teknologi
Harus diterapkan
Optimal
9
Peningkatan hasil gabah (t/ha)
0,25 – 1,12 t/ha
0,35 – 2,29 t/ha
10
Bahan organik
7-10 ton/ha
2 ton/ha
11
Target pemupukan
Tanah sehat
Tanaman sehat
12
Proses pembuatan BO
Perlu decomposer dan bau
Perlu decomposer dan tidak bau

ikatan karbon, dapat berupa sisa-sisa tumbuhan maupun hewan bahkan mahluk hidup lain yang telah mati. Pemberian bahan organik ke dalam tanah dapat dianalogikan memberi makan pada tanah, karena di dalam tanah banyak mikroorganisme yang salah satunya berperan dalam proses pelapukan. Jasad renik tersebut mengkonsumsi karbon dari bahan organik sebagai sumber energinya.
Penambahan bahan organik/kompos ke dalam tanah berarti menyediakan media atau substrat untuk kehidupan mikroorganisme tanah. Tanah yang sehat mampu menyangga secara optimal sistem kehidupan dan memaksimalkan aktifitas mikrobia tanah sehingga terbentuk jaring-jaring kehidupan yang sangat kompleks dan lebih stabil. Organisme tanah saling berinteraksi menjalankan peranannya dalam mendekomposisi substrat organik dari tanaman atau hewan yang mati. Hasil akhir dari proses-proses biologis dapat berupa humus yang merupakan komponen utama kesuburan tanah. Indikator suatu tanah mempunyai kesuburan yang rendah (kurang subur) ataupun sangat subur secara visual dengan cara melihat populasi cacing tanah yang ada di tanah tersebut. Bila cacing tanah sangat banyak di tanah maka tanah tersebut subur bahkan sangat subur, demikian pula sebaliknya. Hal ini disebabkan cacing tanah bergerak secara ke atas dan ke bawah dalam lapisan tanah sehingga porositas tanah menjadi lebih baik, aerasi lebih lancar, pergerakan air dalam tanah lebih mudah.
2. Hasil gabah cukup tinggi. Berdasar hasil panen padi model SRI di kabupaten Garut untuk pertanaman MH 2005/2006, pada padi lokal Wulung diperoleh rata-rata hasil gabah 6,90 t/ha dengan kisaran 5,77 t/ha – 8,47 ton/ha. Di lokasi tersebut tidak diberikan pupuk anorganik, namun pada musim sebelumnya diberikan pupuk organik berkisar 7-9 ton/ha. Sementara itu hasil gabah pada varietas Sarinah dengan teknologi budidaya konvensional dimana diberi pupuk dengan urea takaran 300 kg/ha, SP-36 dan KCl masing-masing 100 kg/ha diperoleh rata-rata hasil gabah sebesar 7,84 t/ha dengan kisaran 6,69 t/ha – 9,22 t/ha. Berdasar hal tersebut tampak bahwa pemberian pupuk organik masih berdampak cukup baik terhadap hasil gabah.
3. Sistem diseminasi teknologi model SRI tergolong bagus untuk diterima di masyarakat petani di sekitarnya. Hal ini dilakukan melalui penyuluhan yang bersifat interaktif antara petani dan penyuluhnya. Dalam penyuluhannya, petugas LSM (lembaga swadaya masyarakat) yang bekerja mengembangkan budidaya padi model SRI menyajikan bahan-bahan penyuluhan dengan kertas-kertas ukuran 0,5 m x 1 m diisi dengan informasipengetahuan ekologi tanah dan pertanian ekologis (pertanian yang menyeimbangkan faktor-faktor yang ada dalam ekosistem sawah) sehingga diperoleh pertanian yang ramah lingkungan. Disamping itu juga dilakukan demonstrasi secara langsung mengenai pentingnya peran pupuk organik untuk kesuburan tanah. Dalam penyuluhannya, petugas penyuluh LSM berusaha mengubah pola pikir petani, kebiasaan-kebiasaan yang sudah mereka lakukan sebelumnya khususnya dalam berusahatani serta pertanian berorientasi keuntungan. Hal ini tampak dalam upaya mereka untuk membiasakan pengembalian jerami ke dalam tanah, pembuatan pestisida nabati dan penanaman bibit muda serta bibit tunggal tanpa paksaan.
4. Produk beras dengan budidaya model SRI di claim sebagai beras organik dan dianggap sebagai beras sehat sehingga wajar bila mereka menuntut harga beras yang lebih mahal. Mereka menjual beras hasil budidaya model SRI sebesar Rp 6000/kg sementara harga beras non SRI berkisar Rp 3500 – 4000/kg. Segmen pasar beras SRI di daerah Bandung dan selama ini permintaan beras SRI yang ibaratnya sama dengan beras organik cukup tinggi. Menurut mereka beras SRI tahan basi dan rasa yang lebih enak.
5. Efisiensi input usahatani terutama dalam hal penggunaan jumlah benih (7-8 kg/ha), tanpa penggunaan pupuk anorganik dan pestisida, biaya pembuatan pembibitan serta penyiangan dengan alat gasrok. Dengan demikian peningkatan pendapatan petani dapat terjadi akibat peningkatan hasil gabah dan efisiensi biaya produksi.
Sementara itu budidaya padi menggunakan model PTT mempunyai kelebihan antara lain
1.    Teknologi budidaya yang dikembangkan di suatu daerah didasarkan pada masalah dan kendala yang ada di daerah setempat karena sebelum model PTT diterapkan di suatu daerah, terlebih dahulu dilakukan penelaahan partisipatif dalam waktu singkat (participatory rural appraisal/PRA). Dengan demikian penerapan budidaya padi model PTT disesuaikan dengan sumberdaya alam yang ada di lokasi dan teknologi inovasi yang sesuai.
2.    Berdasarkan sifatnya, komponen-komponen teknologi dipilah menjadi 2 yaitu (a) teknologi untuk pemecahan masalah setempat atau spesifik lokasi dan (b) teknologi untuk perbaikan cara budidaya yang lebih efisien. Dalam aplikasinya semua komponen teknologi tidak harus diterapkan, namun ada komponen teknologi yang harus diterapkan sebagai penciri model PTT antara lain benih bermutu, varietas unggul baru yang sesuai lokasi, bibit muda, bibit tunggal per lubang tanam, pemupukan N berdasar pembacaan bagan warna daun, dan pemupukan P dan K berdasar status hara tanah.
3.    Hasil gabah tinggi dan pendapat usahatani padi meningkat dibanding budidaya padi bukan PTT. Kenaikan pendapatan berkisar Rp 309 ribu sampai Rp 2,29 juta per hektar atau peningkatan hasil gabah berkisar gabah berkisar 0,35 – 2,29 t/ha dengan rata-rata 1,09 t/ha atau 7 – 38 % dibanding budidaya padi non-PTT berdasar pengalaman penerapan model PTT di 18 propinsi di Indonesia.
4.    Kombinasi pemupukan antara pemberian pupuk anorganik dan organik merupakan salah satu upaya menyeimbangkan status hara tanah. Intensifikasi padi selama ini bertujuan memperoleh hasil gabah sebanyak-banyaknya, artinya banyak hara terkuras dari tanah sehingga perlu suplai hara yang banyak pula untuk mengimbangi senjang hara dalam tanah akibat pengurasan hara tersebut. Pengembalian jerami sebanyak 2 ton/ha untuk memperbaiki kesuburan tanah dan pemberian pupuk anorganik untuk mencukupi kebutuhan hara tanaman wajib dilakukan. Sebagai ilustrasi bahwa tiap 1 ton gabah yang dihasilkan, tanaman padi memerlukan hara N, P dan K masing-masing sebanyak 18 kg, 3 kg dan 17 kg atau setara dengan 40 kg urea, 19 kg SP-36 dan 34 kg KCl. Bila tiap hektar sawah diperoleh gabah sebanyak 7 ton maka secara teoritis kebutuhan urea sebanyak 280 kg, SP-36 sebanyak 133 kg dan KCl sebanyak 238 kg. Jumlah pupuk tersebut diasumsikan bahwa pupuk terserap semua padahal berdasar hasil penelitian ternyata pupuk N yang terserap tanaman berkisar 30 – 40 % dari total pupuk yang diberikan, sedangkan pupuk P dan K masing-masing 20 – 25 % dan 30-40 %.  Namun demikian tanah dan air irigasi juga dapat mensuplai hara N, P dan K. Sumbangan hara N, P dan K dari tanah masing-masing 40-65 kg N/ha, 12-19 kg P/ha dan 60-100 kg K/ha tergantung kesuburan tanah, sementara itu sumbangan hara dari air irigasi 19 kg K/ha/musim. Dengan demikian secara potensial bila kesuburan tanah rendah maka suplai hara berasal dari tanah mampu mencukupi sebanyak 68 %, 75 % dan 0,85 % kebutuhan hara N, P dan K, sedangkan bila tanah sangat subur maka hara tanah dapat mensuplai 80 % N, 75 % P dan semua kebutuhan kalium.
Kekurangan budidaya padi model SRI dan PTT
1.    Dalam budidaya tanaman padi model SRI, tanah disehatkan lebih dulu sehingga pertanaman padi dapat tumbuh dengan baik bahkan tidak memerlukan lagi tambahan hara dari luar dalam bentuk pupuk anorganik. Namun demikian pemberian pupuk organik dalam jumlah besar (7-9 ton/ha) tidaklah mudah, karena sumber pupuk organik seperti jerami padi dan pupuk kandang juga terbatas. Untuk membentuk pupuk organik dari bahan-bahan yang masih mentah dari jerami segar ataupun bentuk lainnya diperlukan waktu yang cukup lama untuk dekomposisi atau pelapukan bahan – bahan tersebut sehingga diperlukan dekomposer. Oleh karena itu dalam budidaya padi model SRI, petani juga membuat dekomposer sendiri melalui fermentasi sampah limbah rumah tangga yang ditempatkan ke dalam tong plastik dan ditambahkan larutan gula atau cairan nira atau air kelapa. Dengan cara tersebut timbul bau yang tidak enak akibat terbentuk gas-gas seperti H2S, metana, CO2 dan lain-lain yang mana dalam jangka panjang dapat mempengaruhi kesehatan lingkungan.
2. Budidaya padi model SRI hanya menggunakan pupuk organik. Salah satu kekurangan pupuk organik adalah tidak segera tersedia bagi tanaman. Bila pupuk  organik diberikan setelah ada tanaman maka pada saat tanaman memerlukan hara untuk pertumbuhan, kebutuhan hara tidak dapat terpenuhi dari pupuk organik yang diberikan, akibatnya tanaman kahat hara dan pertumbuhan terlambat yang ditunjukkan dengan pertumbuhan kerdil, anakan sedikit serta daun berubah warna. Disamping itu kandungan hara yang ada relatif sangat rendah dibandingkan dengan pupuk anorganik sehingga diperlukan volume yang banyak untuk menyamakan takaran dengan pupuk anorganik seperti urea, SP-36 maupun KCl. Oleh karena itu penggunaan pupuk organik lebih ditujukan untuk perbaikan kondisi tanah seperti perbaikan aerasi tanah dan struktur tanah yang mana sifat tersebut tidak dipunyai  oleh pupuk anorganik (pupuk buatan). Apapun hara dalam pupuk organik diserap tanaman dalam bentuk hara anorganik seperti ion anomium (NH4+) ataupun ion nitrat (NO3-) untuk N, HPO42-untuk P dan ion K+ untuk K.  Tanaman padi memerlukan hara makro terutama N, P dan K dalam jumlah yang cukup besar. Untuk menghasilkan 1 ton gabah, tanaman padi memerlukan hara N, P dan K sebanyak 18 kg, 3 kg dan 17 kg. Hara-hara tersebut di dalam tanah berasal dari perombakan bahan organik maupun hara yang ditambahkan dalam bentuk pupuk anorganik. Namun demikian berdasar dari laporan Suyamto et al (2002) bahwa tanah sawah di 5 kabupaten di Jawa Timur (Madiun, Ponorogo, Nganjuk, Ngawi dan Kediri) mempunyai kandungan bahan organik tergolong rendah bahkan sangat rendah. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan terjadi penurunan kesuburan tanah akibat cara budidaya padi yang tidak lagi mengembalikan jerami sisa panen ke lahan sawahnya. Penurunan kandungan bahan organik tanah mempunyai dampak yang besar terhadap kesuburan tanah karena bahan organik mempunyai kemampuan penangkal (buffer capacity) dalam reaksi fisiokimia tanah. Jerami padi merupakan sumber bahan organik yang tersedia bagi petani. Bahan organik lain berupa pupuk kandang dari kotoran sapi, domba/kambing, ayam dan lain-lain. Disamping itu juga pupuk hijau seperti azolla, sesbania, orok-orok yang mana dibenamkan ke dalam tanah.
3.    Pertumbuhan gulma yang pesat karena sejak tanam sampai primordia bunga, tanaman padi tidak digenang tetapi dibiarkan macak-macak, akibatnya pertumbuhan gulma cepat sekali. Mereka melakukan penyiangan sampai 3 kali dengan kombinasi alat gasrok dan manual dengan tangan. Penyiangan dilakukan pada 15 hari setelah tanam (HST), 30 dan 42 HST. Kebutuhan tenaga untuk penyiangan dengan alat gasrok berkisar 3-5 orang per hektar sedangkan untuk penyiangan dengan tangan diperlukan 20-30 orang per hektar. Kebutuhan tenaga di sektor pertanian cukup sulit karena mereka lebih senang bekerja di sektor industri di perkotaan, akibatnya tenaga kerja untuk penyiangan ataupun kegiatan lain dalam budidaya padi menjadi mahal. Dalam hal tanam pindah juga diperlukan tenaga kerja yang terampil karena tidak mudah melakukan tanam pindah dengan umur bibit 7-10 hari.
4.    Pemasaran hasil gabah ataupun dalam bentuk beras banyak mengalami hambatan karena harga jual yang tinggi. Dengan claim sebagai beras organiktentu hanya segelintir orang yang mau membeli beras yang cukup mahal tersebut akibatnya petani SRI bila mematok harga seperti itu akan kesulitan menjual berasnya namun bila disamakan dengan harga beras non-organik, mereka juga tidak mau. Oleh karena itu perlu dicarikan jalan keluar yang sama-sama menguntungkan baik dari konsumen maupun produsen beras.
Sementara itu kekurangan dalam penerapan budidaya padi model PTT antara lain cara diseminasi teknologi PTT di level petani yang belum padu. Sebagai contoh dalam penetapan bibit muda, dalam panduan disebutkan umur bibit < 21 hari. Pernyataan tersebut dapat membingungkan petugas penyuluh untuk mensosialisasi penanaman bibit muda. Demikian pula dalam penanaman bibit tunggal, ternyata dalam buku panduan disebutkan 1-3 bibit per lubang. Mestinya kalau bibit tunggal ya 1 bibit per lubang tanpa embel-embel 1-3 bibit lagi.  Jadi dalam penyuluhan PTT hendaknya ada ketegasan yang dapat dijadikan pedoman bagi petugas penyuluh di lapangan. Hal ini dikarenakan petani masih belum bisa melepaskan diri dari aturan yang sudah lama mereka jalani sehingga belum dapat menentukan sendiri teknologi budidaya padi mana yang harus diikuti. Petugas pendamping PTT di daerah juga belum menyelami sepenuhnya teknologi model PTT sehingga bila ada pertanyaan dari petani seringkali tidak tahu menjawab dengan benar. Secagai contoh mengapa bahan organik yang diberikan harus 2 t/ha, mengapa dilakukan irigasi berselang, mengapa pupuk urea diberikan secara split sedangkan pupuk P dan K tidak, dan lain-lainnya.
             
                 


readmore »»  

Katagori

About Me

Foto Saya
TEAM WORK
1. Yuyus Yusmana,S.PKP 2. Karnadi S,AMd 3. Cucu Hendrik,A.Md 4. Hamdan,SP 5. Randhani,SP 6. Dalim Jm. 7. Encum Nurhidayat
Lihat profil lengkapku